Sabtu, 05 November 2022

"Budaya Positif"

 Assalamualaikum wr wb

Tabik Pun,

Salam Bahagia,

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan rangkuman materi modul 1.4 dari pendidikan guru penggerak. Modul 1.4 mempelajari tentang "Budaya Positif". Yang mana dalam materi budaya positif tersebut tediri dari :

1. Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal

2. Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi

3. Keyakinan Kelas

4. Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas

5. Restitusi: 5 Posisi Kontrol

6. Restitusi: Segitiga Restitusi

Disini saya akan membahas satu demi satu terkait enam pokok bahasan di atas. 

1.   Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal 

Disiplin berasal dari bahasa latin yang artinya "belajar", disiplin disini maksudnya adalah usaha untuk mencapai tujuan namun dalam budaya kita disiplin selalu diartikan sebagai kepatuhan yang harus dilakukan atau ketidaknyamanan. Dalam menumbuhkan dan membangun nilai disiplin dalam diri murid maka perlunya kebiasaan yang lama kelamaan kebiasaan tersebut akan menjadi budaya  di sekolah, sehingga dalam menerapkan kebiasaan disiplin tersebut menjadi suatu kebutuhan untuk mewujudkan visi bukan menjadi tuntutan atau keterpaksaan.  Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Nilai-nilai tersebut bersifat universal, dan lintas bahasa, suku bangsa, agama maupun latar belakang. Berikut pendapat para ahli yang dapat dijadikan rujukan untuk menerapkan nilai-nilai kebajikan.


• Setiap perilaku/perbuatan memiliki suatu tuiuan. (Dr. William Glasser pada Teori Kontrol, 

  1984)

• Dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi 

  intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat 

  mencapai tujuan mulia yang diinginkan. (Diane Gossen, 1998)

• Nilai-nilai kebajikan yang ingin dicapai oleh setiap anak Indonesia kita kenal dengan Profil 

  Pelajar Pancasila. Yaitu :

- Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia.

- Mandiri

- Bernalar Kritis

- Berkebinekaan Global

- Bergotong royong

- Kreatif

2. Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi

Selama menjadi guru mungkin kita pernah memberikan akibat dari kesalahan yang dilakukan murid dengan tujuan mendisiplinkan murid. Namun tanpa kita sadari mungkin akibat yang kita berikan tersebut merupakan sebuah hukuman. Atau mungkin kita pernah mengapresiasi pencapaian murid dalam bentuk penghargaan. Hukuman dan penghargaan yang diberikan dapat menimbulkan motivasi ekstrinsik pada diri murid, untuk itu sebagai guru kita harus menghindari pemberian hukuman dan penghargaan pada murid karena hal tersebut dapat mempengaruhi prilaku murid. karena motivasi yang muncul pada murid adalah motivasi berupa :

1. Untuk menghindari ketidaknyamanan/hukuman (motivasi esktrinsik)

2. Untuk mendapatkan imbalan dari orang lain/institusi(motivasi esktrinsik)

Seperti pendapat berikut : Bahwa penghargaan berlaku ‘sama’ dengan hukuman, dalam arti meminta atau membujuk seseorang melakukan sesuatu untuk memenuhi suatu tujuan tertentu dari orang yang meminta/membujuk. Dorongannya eksternal dan akan ada faktor ketergantungan. Beberapa dampak dari pemberian penghargaan (Alfie Kohn, 1993). Karena faktanya dalam kegiatan pemberian penghargaan dinilai tidak efektif memotivasi murid dalam jangka panjang. Ada bentuk lain yang dapat kita lakukan untuk menghargai usaha murid yaitu dengan cara memberikan apresiasi berupa pemberian pengakuan secara khusus dan pribadi kepada murid yang dilakukan secara bergantian kepada seluruh murid. 

untuk menghindari hal tersebut maka kita sebagai guru sebaiknya menerapkan restitusi.

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat. Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikirtentang orang seperti apa yang mereka ingin menjadi (tujuan mulia), dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain(Gossen; 2004) 

Restitusi merupakan pilihan yang dapat dilakukan yang mengakibatkan munculnya motivasi intrinsik pada diri murid yang dapat mempengaruhi prilaku murid dalam waktu yang panjang bahkan dapat melekat menjadi kebiasaan positif bagi murid untuk menghargai dirinya(motivasi intrinsik). 

9 Ciri-ciri Restitusi

1. Bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan.

2. Memperbaiki hubungan.

3. Tawaran, bukan paksaan.

4. Restitusi menuntun untuk melihat ke dalam diri.

5. Restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan.

6. Restitusi-diri adalah cara yang paling baik.

7. Restitusi fokus pada karakter bukan tindakan.

8. Restitusi fokus pada solusi.

9. Restitusi mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya.

 

3. Keyakinan Kelas

Untuk mendukung motivasi intrinsik, kembali ke nilai-nilai/keyakinan-keyakinan lebih menggerakkan seseorang dibandingkan mengikuti serangkaian peraturan-peraturan. Untuk membiasakan murid bertanggung jawab dan menumbuhkan kebiasaan disiplin kita sebagai guru dapat mengajak murid membuat keyakinan kelas secara bertanggung jawab sehingga dapat dilaksanakan dengan sepenuh hati dan menimbulkan motivasi dalam diri murid sebagai suatu hal yang positif. Keyakinan kelas dibuat bukan dengan kata-kata larangan tapi dengan kata-kata yang lebih memotivasi seperti "Mengetuk pintu sebelum memasuki kelas sebagai upaya saling menghormati"

4. Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas

Kebutuhan dasar manusia dapat dilihat dalam diagram berikut ini :

Setiap murid membutuhkan kebutuhan dasar tersebut. Jika ada satu saja kebutuhan dasar tersebut yang tidak terpenuhi maka akan berdampak pada prilaku murid. Murid yang berprilaku negatif biasanya mereka membutuhkan kebebasan, kesenangan, dan kasih sayang dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam dirinya. Untuk itu sebagai guru kita perlu juga memperhatikan kebutuhan dasar manusia pada diri murid dalam upaya memperbaiki laku murid.

5. Restitusi: 5 Posisi Kontrol
Lima posisi kontrol guru adalah :
1. Penghukum
2. Pembuat orang merasa bersalah
3. Teman
4. Pemantau
5. Manager

Dari kelima posisi kontrol tersebut hal yang perlu kita hindari adalah posisi sebagai penghukum dan pembuat otang merasa bersalah karena dua hal tersebut dapat menyebabkan kegagalan pada murid. Karena akan berdampak dimana murid akan mengulangi kesalahan dan merasa rendah diri  Murid akan tersakiti secara psikologis sehingga membuat murid berusaha untuk menghindari hukuman yang mana hal tersebut merupakan bagian dari motivasi ekstrinsik pada diri murid. Sedangkan posisi sebagai teman dan pemantau meskipun dapat diterapkan tapi dua hal ini pun bukan merupakan pilihan yang tepat karena posisi sebagai teman akan membuat murid merasa ketergantungan kepada guru dan tidak mandiri sedangkan posisi sebagai pemantau lebih menekankan pada pemberian sanksi dan hadiah/penghargaan itupun dapat menimbulkan motivasi intrinsik pada diri murid. Posisi yang sebaiknya kita lakukan sebagai guru adalah posisi sebagai manager dimana guru berperan menuntun murid menyadari kesalahannya dan berusaha mencari solusi atau penyelesaian dari masalah yang murid timbulkan sehingga murid dapat mengevaluasi dan memperbaiki diri sebagai bentuk sikap menghargai dirinya sendiri sehingga akan menimbulkan motivasi intrinsik pada murid.


6. Restitusi: Segitiga Restitusi
Langkah segitiga restitusi yang dapat dilakukan guru dapat dilihat dalam gambar berikut :


Segitiga restitusi merupakan suatu langkah yang dapat dilakukan guru untuk memperbaiki laku murid yang melakukan kesalahan agar murid dapat menyadari kesalahannya dan menemukan sendiri solusi dari masalah yang dia timbulkan. langkah ini dapat menumbuhkan sikap bertanggung jawab pada murid karena murid akan di ingatkan pada keyakinan kelas yang telah disepakati dan bagaimana cara murid untuk mengambil langkah positif dan bermanfaat bagi dirinya dalam menyelesaikan kesalahannya. sebelum mengingatkan murid pada keyakinan kelas guru terlebih dahulu memeriksa atau menstabilkan identitas  yang dilakukan murid kemudian guru melakukan validasi tindakan yang dilakukan murid dimana hal ini merupakan bagian dalam langkah validasi tindakan yang salah, kemudian baru guru akan mengingatkan murid pada keyakinan kelas dan bagaimana cara untuk mengembalikan sikap murid dalam mematuhi keyakinan kelas tersebut. Kegiatan penerapan segitiga restitusi di sekolah dapat di tonton melalui tayangan video berikut : Penerapan segitiga restitusi di sekolah
(Sumber Materi : Modul dan PPT Kemdikbud PGP Angkatan 6)

Demikianlah pemaparan saya terkait kesimpulan dari materi modul 1.4 tentang "Budaya Positif". Tanggapan positif sangat saya harapkan dari para pembaca guna perbaikan dan penambahan pengetahuan pada diri saya. Terima kasih..

Wassalamualaikum Wr Wb



Tidak ada komentar:

Posting Komentar